Membaca Surah atau Ayat Al-Qur’an setelah Al-Fatihah
Membaca Surah atau Ayat Al-Qur’an setelah Al-Fatihah
Pendahuluan
Setelah membaca Surah Al-Fatihah, seorang yang sholat dapat membaca surah lain atau beberapa ayat Al-Qur’an pada rakaat-rakaat tertentu. Bacaan ini dikenal sebagai bacaan surah setelah Al-Fatihah. Panduan ini menjelaskan ketentuan umumnya dengan tetap memperhatikan adanya perbedaan pendapat ulama dalam beberapa rincian.
Yang perlu diingat, bacaan setelah Al-Fatihah tidak menggantikan Al-Fatihah. Al-Fatihah memiliki kedudukan tersendiri dalam sholat, sedangkan bacaan setelahnya merupakan tambahan bacaan Al-Qur’an.
1. Hukum membaca surah setelah Al-Fatihah
Secara umum, membaca surah atau ayat setelah Al-Fatihah disunnahkan pada rakaat-rakaat tertentu. Dalam sholat wajib, bacaan tambahan ini lazim dilakukan pada dua rakaat pertama. Pada rakaat ketiga dan keempat, umumnya cukup membaca Al-Fatihah.
Ketentuan tersebut merupakan panduan umum yang bersumber dari praktik sholat Nabi Muhammad ﷺ. Terdapat variasi riwayat dan rincian fikih, sehingga bacaan tambahan pada rakaat selain dua rakaat pertama tidak perlu dijadikan sebab untuk menyalahkan orang yang mengikuti pendapat fikih yang diakui.
2. Pada rakaat mana bacaan tambahan dibaca?
Pada sholat Subuh, bacaan setelah Al-Fatihah dibaca pada kedua rakaat.
Pada sholat Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya, bacaan setelah Al-Fatihah umumnya dibaca pada dua rakaat pertama. Pada rakaat berikutnya, umumnya cukup membaca Al-Fatihah.
Pada sholat sunnah yang dikerjakan dua rakaat, bacaan tambahan umumnya dibaca pada setiap rakaat setelah Al-Fatihah.
3. Surah atau ayat apa yang boleh dibaca?
Tidak ada keharusan membaca surah tertentu setiap kali sholat, kecuali jika ada tuntunan khusus yang sahih untuk keadaan atau sholat tertentu. Seseorang dapat membaca surah yang telah dihafalnya, baik surah pendek maupun bagian dari surah yang lebih panjang.
Bagi yang masih belajar, membaca surah-surah pendek yang telah dikuasai merupakan pilihan praktis. Bacalah dengan tartil dan berusaha menjaga pelafalan huruf serta harakatnya. Tidak perlu memaksakan bacaan panjang jika belum mampu membacanya dengan baik.
Disunnahkan membaca dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Panjang bacaan dapat disesuaikan dengan keadaan jamaah, terutama bagi imam yang memimpin orang banyak atau mengetahui adanya jamaah yang memiliki kebutuhan khusus.
4. Ketentuan bagi imam, makmum, dan orang yang sholat sendiri
Orang yang sholat sendirian membaca Al-Fatihah, kemudian membaca surah atau ayat tambahan pada rakaat yang dianjurkan untuk bacaan tersebut.
Imam membaca Al-Fatihah dan bacaan tambahan sesuai ketentuan sholat yang dipimpinnya. Dalam sholat berjamaah, imam hendaknya mempertimbangkan kemampuan dan keadaan makmum serta tidak memanjangkan bacaan secara memberatkan.
Untuk makmum, terdapat perbedaan pendapat ulama tentang membaca Al-Fatihah ketika mengikuti imam, khususnya dalam sholat jahr (bacaan dikeraskan). Karena itu, ikutilah bimbingan fikih yang tepercaya sesuai mazhab atau tuntunan yang dianut. Adapun bacaan surah tambahan setelah Al-Fatihah pada umumnya menjadi bacaan imam dalam sholat berjamaah; makmum menyimak ketika imam membaca dengan suara keras sesuai ketentuan yang diikuti.
5. Bacaan jahr dan sirr
Dalam sholat tertentu, imam mengeraskan bacaan Al-Qur’an (jahr), sedangkan pada sholat lainnya bacaan dilakukan dengan suara pelan (sirr). Secara umum, Subuh, dua rakaat pertama Magrib dan Isya dibaca jahr oleh imam; Zuhur dan Asar dibaca sirr. Ada pula ketentuan khusus pada sholat Jumat, hari raya, dan sholat tertentu lainnya.
Orang yang sholat sendirian atau menjadi makmum mengikuti ketentuan bacaan sesuai posisi dan sholatnya. Istilah sirr bukan berarti tidak melafalkan bacaan sama sekali; bacaan tetap diucapkan dengan gerakan lisan sesuai kemampuan, bukan sekadar dibayangkan di dalam hati.
6. Adab membaca Al-Qur’an dalam sholat
1. Membaca dengan tartil dan tidak tergesa-gesa.
2. Berusaha memperbaiki makhraj huruf dan harakat sesuai kemampuan.
3. Membaca surah atau ayat yang telah dikuasai; tidak harus selalu memilih surah yang panjang.
4. Menjaga kekhusyukan dan tidak mengganggu jamaah.
5. Tidak menjadikan perbedaan pilihan surah atau panjang bacaan sebagai alasan untuk saling menyalahkan.
Ringkasan praktis
• Selesaikan bacaan Al-Fatihah terlebih dahulu.
• Pada rakaat yang dianjurkan, lanjutkan dengan surah atau beberapa ayat Al-Qur’an yang dikuasai.
• Dalam sholat wajib, bacaan tambahan umumnya dilakukan pada dua rakaat pertama; pada rakaat berikutnya umumnya cukup Al-Fatihah.
• Imam hendaknya memperhatikan keadaan makmum.
• Untuk rincian bacaan makmum ketika imam membaca jahr, ikuti tuntunan fikih tepercaya karena terdapat perbedaan pendapat ulama.
Dalil dan rujukan
• Hadis tentang praktik bacaan Nabi ﷺ dalam sholat, antara lain riwayat Abu Qatadah mengenai bacaan pada rakaat-rakaat sholat (Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).
• Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim: riwayat tentang bacaan Al-Fatihah dan praktik sholat Nabi ﷺ.
• An-Nawawi, Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab, pembahasan bacaan Al-Qur’an dalam sholat.
• Ibn Qudamah, Al-Mughni, pembahasan bacaan surah setelah Al-Fatihah.
Catatan: rincian hukum membaca Al-Fatihah bagi makmum dan beberapa rincian bacaan dalam sholat memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama. Rujukan di atas dicantumkan sebagai bahan kajian, bukan untuk meniadakan perbedaan fikih yang diakui.
Sumber
Sahih al-Bukhari; Sahih Muslim; An-Nawawi, Al-Majmu‘; Ibn Qudamah, Al-Mughni
Keterangan derajat / penilaian sumber
Rujukan hadis sahih; rincian fikih tertentu memiliki perbedaan pendapat ulama
