TAKMIR MASJID INDONESIA

Komunitas Pemakmur Masjid

Sholat Sunnah Dhuha: Waktu, Jumlah Rakaat, Tata Cara, dan Keutamaannya

TAKMIR.ID · PANDUAN SHOLAT

Sholat Sunnah Dhuha: Waktu, Jumlah Rakaat, Tata Cara, dan Keutamaannya

04. Panduan Sholat Sunnah

Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dilakukan setelah matahari terbit dan naik hingga menjelang Zuhur. Artikel ini membahas waktu, jumlah rakaat, tata cara, keutamaan, serta hal yang perlu diperhatikan.

Pengertian Sholat Dhuha

Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada waktu Dhuha, yaitu setelah matahari terbit dan naik hingga menjelang waktu zawal (matahari bergeser dari titik tengah langit). Sholat ini termasuk amalan sunnah yang dikenal dalam tuntunan Nabi ﷺ.

Sholat Dhuha bukan pengganti sholat Subuh atau sholat fardu lainnya. Pelaksanaannya merupakan ibadah tambahan yang dilakukan dengan ikhlas dan tetap menjaga kewajiban.

Waktu Pelaksanaan

Waktu Dhuha dimulai setelah matahari terbit dan telah naik, kira-kira sekitar 15–20 menit setelah waktu terbit setempat. Waktunya berakhir menjelang masuk Zuhur, sebelum matahari tergelincir dari titik tengah langit.

Waktu yang lebih utama sering dijelaskan sebagai ketika panas matahari mulai terasa. Dalam Shahih Muslim terdapat riwayat Zaid bin Arqam yang menyebut sholat awwabin dilakukan ketika anak-anak unta mulai kepanasan oleh pasir. Para ulama mengaitkan riwayat ini dengan waktu Dhuha yang lebih akhir, selama belum masuk waktu terlarang.

Jumlah Rakaat

Sholat Dhuha paling sedikit dikerjakan dua rakaat. Terdapat riwayat tentang pelaksanaan empat rakaat, dan ada riwayat yang menyebut Nabi ﷺ berwasiat agar menjaga dua rakaat Dhuha. Para ulama juga membahas jumlah maksimal berdasarkan berbagai riwayat dan pendapat fikih.

Untuk praktik umum, seseorang dapat memulai dengan dua rakaat, lalu menambah sesuai kemampuan dan tuntunan fikih yang dipelajari. Sebagian ulama menyebut delapan rakaat berdasarkan riwayat tertentu; terdapat pula pendapat lain tentang jumlah yang lebih banyak. Karena rincian maksimalnya diperselisihkan, artikel pengantar ini tidak menetapkan satu angka maksimal sebagai satu-satunya pendapat.

Tata Cara Sholat Dhuha

1. Pastikan waktu Dhuha telah masuk dan bersuci sesuai ketentuan.

2. Berniat dalam hati untuk melaksanakan sholat sunnah Dhuha. Tidak ada keharusan melafalkan niat dengan kalimat tertentu.

3. Takbiratul ihram, kemudian membaca doa iftitah jika hendak membacanya, Surah Al-Fatihah, dan ayat atau surah Al-Qur’an.

4. Melaksanakan rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan gerakan lainnya sebagaimana tata cara sholat yang benar.

5. Menyelesaikan rakaat kedua dengan tasyahud akhir dan salam. Jika ingin menambah rakaat, kerjakan dua rakaat salam, sesuai cara yang umum dijelaskan dalam fikih.

Tidak ada satu surah khusus yang wajib dibaca dalam sholat Dhuha. Bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah dan dikuasai, dengan memperhatikan bacaan serta ketenangan gerakan.

Bacaan dan Doa Setelah Dhuha

Tidak ada doa khusus setelah sholat Dhuha yang ditetapkan secara sahih sebagai satu-satunya bacaan wajib. Seseorang boleh berdoa dengan doa yang baik, memohon kebaikan dunia dan akhirat, serta berzikir dengan zikir yang disyariatkan.

Doa populer yang diawali dengan kalimat “Allahumma innad-duhaa’a duhaa’uka…” sering beredar sebagai doa Dhuha. Namun, doa tersebut tidak memiliki dasar hadis sahih yang kuat sebagai bacaan khusus dari Nabi ﷺ. Karena itu, jangan meyakini bahwa doa itu wajib atau pasti merupakan sunnah khusus yang bersumber dari Nabi.

Keutamaan Sholat Dhuha

Dalam Shahih Muslim, terdapat hadis Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu tentang sedekah bagi setiap persendian manusia dan bahwa dua rakaat Dhuha mencukupi sebagai bentuk sedekah tersebut. Hadis ini menunjukkan keutamaan Dhuha sebagai bagian dari syukur kepada Allah atas nikmat anggota tubuh.

Terdapat pula riwayat-riwayat lain mengenai keutamaan sholat Dhuha. Dalam menyampaikan keutamaannya, penting untuk membedakan riwayat yang sahih dari riwayat yang diperselisihkan atau lemah.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Menunaikan sholat Dhuha sebelum waktunya masuk; menganggap ada satu surah tertentu yang wajib dibaca; meyakini doa populer setelah Dhuha sebagai bacaan wajib; atau meninggalkan sholat fardu karena terlalu fokus pada amalan sunnah.

Jika ragu tentang waktu, gunakan jadwal matahari terbit setempat dan beri jeda setelah terbit. Perhatikan pula waktu-waktu yang dilarang untuk sholat menurut tuntunan fikih.

Kesimpulan

Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dikerjakan setelah matahari naik hingga menjelang Zuhur. Mulailah dengan dua rakaat, lakukan dengan tata cara sholat yang benar, dan berdoalah dengan doa yang baik tanpa meyakini bacaan tertentu sebagai kewajiban jika tidak ada dalil yang kuat. Keutamaan Dhuha antara lain disebut dalam hadis sahih tentang dua rakaat yang mencukupi sedekah bagi persendian.

Rujukan

  • Shahih Muslim, hadis Abu Dzarr tentang sedekah bagi persendian dan dua rakaat Dhuha; nomor hadis berbeda menurut edisi.
  • Shahih Muslim, riwayat Zaid bin Arqam tentang sholat awwabin ketika pasir mulai panas.
  • Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, riwayat tentang wasiat menjaga dua rakaat Dhuha; periksa penomoran sesuai edisi yang digunakan.
  • Penjelasan fikih ulama tentang waktu, jumlah rakaat, dan tata cara sholat Dhuha.
REFERENSI & DALIL

Sumber
Shahih Muslim; Shahih al-Bukhari; penjelasan fikih ulama.

Nomor hadis
Riwayat Abu Dzarr dan Zaid bin Arqam dalam Shahih Muslim

Keterangan derajat / penilaian sumber
Rujukan utama pada hadis sahih; nomor hadis disesuaikan dengan edisi rujukan redaksi.

← Kembali ke Panduan Sholat

Bersama Membangun Peradaban Melalui Masjid

2024 Takmir Masjid Indonesia