Gerakan dan Bacaan Iktidal
Gerakan dan Bacaan Iktidal
Pendahuluan
Iktidal adalah gerakan berdiri kembali setelah rukuk sebelum turun menuju sujud. Gerakan ini perlu dilakukan dengan tenang dan tuma’ninah, bukan sekadar lewat dari rukuk menuju sujud.
Dalam tuntunan sholat Nabi ﷺ, terdapat bacaan ketika bangkit dari rukuk dan bacaan pujian setelah berdiri tegak. Ada beberapa redaksi zikir yang diriwayatkan; panduan ini memuat bacaan yang umum digunakan beserta maknanya.
1. Cara melakukan gerakan iktidal
1. Setelah rukuk, bangkitkan badan hingga kembali berdiri tegak.
2. Ketika bangkit dari rukuk, bacalah “Sami‘allāhu liman ḥamidah” sesuai tuntunan sholat.
3. Setelah berdiri tegak, bacalah pujian kepada Allah, seperti “Rabbanā wa lakal-ḥamd”.
4. Berdirilah dengan stabil dan tenang sejenak. Jangan langsung turun sujud sebelum tercapai tuma’ninah.
5. Setelah iktidal selesai, bergeraklah menuju sujud dengan takbir intiqal sesuai tuntunan.
2. Bacaan ketika bangkit dari rukuk
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
Sami‘allāhu liman ḥamidah.
Artinya: “Allah mendengar orang yang memuji-Nya.”
Bacaan ini dikenal sebagai zikir ketika bangkit dari rukuk. Dalam praktik berjamaah, terdapat perincian bacaan antara imam, makmum, dan orang yang sholat sendirian. Ikuti tuntunan fikih yang tepercaya sesuai mazhab atau bimbingan yang dianut.
3. Bacaan setelah berdiri tegak
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
Rabbanā wa lakal-ḥamd.
Artinya: “Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji.”
Terdapat pula redaksi pujian lain yang sahih, di antaranya dengan tambahan “ḥamdan kathīran ṭayyiban mubārakan fīh” (pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah). Variasi redaksi ini menunjukkan keluasan bacaan yang diajarkan dalam hadis.
4. Variasi bacaan pujian iktidal
Di antara redaksi yang diriwayatkan adalah:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ
Rabbanā lakal-ḥamd.
Artinya: “Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji.”
Selain itu, dalam hadis sahih terdapat pujian yang lebih panjang, seperti “Rabbanā wa lakal-ḥamdu ḥamdan kathīran ṭayyiban mubārakan fīh”. Seseorang dapat mempelajari variasi yang bersumber dari riwayat tepercaya dan tidak perlu menganggap hanya satu redaksi yang boleh dibaca.
5. Pentingnya tuma’ninah
Tuma’ninah berarti tenang dan mantap sejenak pada gerakan sholat. Saat iktidal, tubuh perlu kembali tegak setelah rukuk dan berada dalam posisi stabil sebelum berpindah menuju sujud.
Hadis tentang orang yang belum benar sholatnya menjelaskan pentingnya menyempurnakan rukuk dan berdiri tegak setelah rukuk. Karena itu, jangan terburu-buru hingga posisi iktidal tidak terbentuk.
Jika seseorang memiliki keterbatasan fisik, ia melakukan gerakan sesuai kemampuan. Jangan memaksakan posisi yang menimbulkan bahaya atau rasa sakit; pelajari tuntunan sholat bagi orang yang sakit.
6. Ketentuan bagi imam, makmum, dan orang yang sholat sendiri
Orang yang sholat sendirian membaca zikir ketika bangkit dari rukuk dan pujian setelah berdiri tegak.
Imam membaca zikir sesuai tuntunan sholat dan memberi waktu yang cukup agar iktidal terlaksana dengan tenang.
Untuk makmum, terdapat perincian fikih tentang bacaan ketika imam bangkit dari rukuk dan pujian setelah berdiri. Ikuti panduan fikih yang tepercaya sesuai mazhab atau bimbingan yang dianut. Perbedaan rincian tersebut tidak seharusnya menjadi sebab saling menyalahkan.
7. Kesalahan yang perlu dihindari
• Langsung turun sujud tanpa berdiri tegak setelah rukuk.
• Bergerak terlalu cepat sehingga tidak tercapai tuma’ninah.
• Tidak mempelajari perbedaan fungsi bacaan ketika bangkit dan bacaan pujian setelah berdiri.
• Menyalahkan orang lain hanya karena menggunakan redaksi pujian yang berbeda tetapi memiliki dasar riwayat.
• Memaksakan gerakan yang melampaui kemampuan fisik.
Ringkasan praktis
• Bangkit dari rukuk hingga berdiri tegak.
• Ketika bangkit, baca “Sami‘allāhu liman ḥamidah” sesuai ketentuan sholat.
• Setelah tegak, baca pujian seperti “Rabbanā wa lakal-ḥamd”.
• Berhenti sejenak dengan tenang agar tercapai tuma’ninah.
• Setelah itu, lanjutkan menuju sujud sesuai urutan gerakan sholat.
Dalil dan rujukan
• Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim: riwayat tentang bacaan Nabi ﷺ ketika bangkit dari rukuk dan pujian setelah berdiri.
• Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim: hadis tentang orang yang belum benar sholatnya, yang menjelaskan pentingnya berdiri tegak setelah rukuk dengan tuma’ninah.
Catatan: penomoran hadis dapat berbeda menurut edisi dan sistem penomoran yang digunakan. Rincian bacaan imam dan makmum memiliki pembahasan fikih yang perlu dipelajari dari sumber tepercaya.
Sumber
Sahih al-Bukhari; Sahih Muslim
Keterangan derajat / penilaian sumber
Rujukan hadis sahih; rincian bacaan makmum memiliki pembahasan fikih
