Pengantar Sholat Sunnah dan Pembagiannya
Sholat sunnah adalah sholat yang disyariatkan selain sholat fardu lima waktu. Materi ini mengenalkan kedudukan, pembagian, dan prinsip dasar mengamalkannya.
Pengertian Sholat Sunnah
Sholat sunnah adalah sholat yang disyariatkan selain sholat fardu lima waktu. Dalam pembahasan fikih, sholat ini juga sering disebut sholat tathawwu’ atau sholat nafilah. Pelaksanaannya merupakan bentuk ketaatan dan kesempatan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah.
Secara umum, sholat sunnah tidak menggantikan kewajiban sholat fardu. Seorang muslim tetap harus menjaga sholat lima waktu, sementara sholat sunnah menjadi ibadah tambahan yang melengkapi amalan wajib.
Kedudukan dan Keutamaan Sholat Sunnah
Sholat sunnah memiliki kedudukan penting dalam ibadah seorang muslim. Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah, Allah menjelaskan bahwa seorang hamba terus mendekat kepada-Nya dengan amalan-amalan sunnah setelah menunaikan amalan wajib hingga Allah mencintainya. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6502).
Sholat sunnah juga menjadi sebab penyempurna kekurangan pada sholat wajib, sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang amalan pertama yang diperiksa pada hari kiamat. Riwayat mengenai penyempurnaan sholat fardu dengan amalan sunnah terdapat dalam Sunan Abi Dawud (no. 864) dan Jami’ at-Tirmidzi (no. 413), dengan rincian penilaian hadis yang dibahas oleh para ulama.
Keutamaan tersebut hendaknya mendorong seseorang beribadah dengan ikhlas dan konsisten, bukan merasa aman meninggalkan kewajiban atau meremehkan orang yang belum mampu memperbanyak amalan sunnah.
Pembagian Sholat Sunnah
Para ulama mengelompokkan sholat sunnah dengan beberapa cara. Salah satu pembagian yang mudah dipahami adalah berdasarkan keterkaitannya dengan sholat fardu, waktu pelaksanaan, dan sebab tertentu.
1. Sholat sunnah rawatib: sholat sunnah yang mengiringi sholat fardu, baik sebelum maupun sesudahnya. Di antaranya terdapat rawatib yang sangat ditekankan (muakkadah) dan yang tidak sekuat itu penekanannya (ghairu muakkadah). Rincian jumlah dan waktu pelaksanaannya dibahas dalam materi tersendiri.
2. Sholat sunnah yang berkaitan dengan waktu atau malam tertentu: misalnya sholat Dhuha, Tahajud, Witir, dan Tarawih.
3. Sholat sunnah karena sebab tertentu: misalnya Tahiyatul Masjid ketika masuk masjid, Istikharah ketika memohon pilihan terbaik, Taubat ketika bertobat, serta sholat gerhana dan Istisqa dengan ketentuan masing-masing.
4. Sholat sunnah mutlak: sholat sunnah yang dikerjakan tanpa terikat sebab khusus, selama dilakukan pada waktu yang dibolehkan untuk sholat.
Hukum dan Istilah: Muakkadah serta Ghairu Muakkadah
Sholat sunnah muakkadah adalah sholat sunnah yang sangat ditekankan dalam tuntunan Nabi ﷺ. Sholat sunnah ghairu muakkadah adalah sholat sunnah yang dianjurkan, tetapi tingkat penekanannya tidak sama. Istilah dan rincian penerapannya dapat berbeda dalam penjelasan mazhab fikih.
Perbedaan tingkat anjuran ini tidak berarti sholat sunnah yang kurang ditekankan menjadi tidak bernilai. Seorang muslim dapat memulai dengan amalan yang paling ditekankan, lalu menambah ibadah sesuai ilmu, kemampuan, dan kondisi.
Prinsip Praktis Mengamalkan Sholat Sunnah
Pertama, dahulukan penjagaan sholat fardu lima waktu. Kedua, pelajari tata cara dan waktu pelaksanaan dari sumber yang tepercaya. Ketiga, jaga keikhlasan dan hindari sikap berlebihan. Keempat, lakukan secara bertahap dan konsisten. Kelima, pahami bahwa beberapa sholat sunnah memiliki perbedaan rincian fikih yang diakui para ulama.
Jika terdapat perbedaan bacaan, jumlah rakaat, atau cara pelaksanaan dalam masalah yang memang diperselisihkan, pelajari dasar pendapatnya dengan tenang dan hindari saling menyalahkan tanpa ilmu.
Kesimpulan
Sholat sunnah merupakan ibadah tambahan yang memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah dan menjadi sarana menyempurnakan amal. Jenisnya beragam, antara lain rawatib, Dhuha, Tahajud, Witir, Tarawih, Tahiyatul Masjid, Istikharah, Taubat, sholat gerhana, Istisqa, dan sholat sunnah mutlak. Memahami pembagiannya membantu seorang muslim memilih amalan dengan benar, bertahap, dan berkesinambungan.
Rujukan
- Al-Qur’an, QS. Al-Isra’ [17]: 79 (tentang sholat malam sebagai ibadah tambahan).
- Shahih al-Bukhari, no. 6502 (hadis qudsi tentang mendekat kepada Allah melalui amalan sunnah setelah amalan wajib).
- Sunan Abi Dawud, no. 864; Jami’ at-Tirmidzi, no. 413 (riwayat tentang penyempurnaan kekurangan sholat wajib dengan amalan sunnah; perincian penilaian hadis dirujuk kepada pembahasan ulama).
Sumber
Al-Qur’an dan hadis; rincian fikih merujuk pada pembahasan ulama.
Nomor hadis
Al-Bukhari 6502; Abu Dawud 864; at-Tirmidzi 413
Keterangan derajat / penilaian sumber
Rujukan hadis dicantumkan untuk penelusuran; perincian penilaian riwayat perlu diperiksa pada edisi dan takhrij yang digunakan.
